Sejarah Celana Pangsi

Celana Pangsi merupakan salah satu pakaian orang sunda yang unik dan khas. Pakaian ini memiliki ukuran yang besar dan warnanya hitam serta berbahan dasar kain katun.Ada beberapa orang yang menyebut celana ini sebagai pakaian tradisional dari tanah sunda dan ada juga yang mengatakan celana pangsi.

Pangsi merupakan pakaian serbaguna yang merupakan sejarah dari para pesilat.Pangsi pencak silat digunakan untuk olahraga pencak silat namun seringkali digunakan oleh petani,seniman dan pejabat di perayaan adat tertentu.Sejarah celana pangsi tidak pernah jelas namun ada yang berpendapat jika pangsi berasal dari Panglima Siliwangi (komandan Siliwangi).Benar atau tidaknya kita tidak tahu.

Saat ini orang sunda tidak bisa mematenkan jika celana pangsi memang dari tanah sunda dan hanya satu satunyta saja karena beberapa orang betawi juga menggunakan celana ini dan juga dikenakan oleh sebagian orang di beberapa wilayah di Indonesia.Ada yang menggunakan celana pangsi warna putih dan yang lainnya.

Cerita Abah Khaer setelah dirikan Ulin Cimande

Di tahun 1760,tepatnya di desa Cogreg Boogor ia mulai mengajar ulin CImande dan para muridnya sudah tersebar di seluruh Jawa Barat dan juga tanah Batavia.Saat ia mengunjungi kota Cianjur dan bertemu dengan Raden Adipati Wiratanudatar (1776-1813) mengajarkan seluruh keluarga bupati dan staff keamanan dalam pemerintahan untuk tinggal di kamurang desa.Ada pertama ia diuji untuk menghadapi Ulin Kuntao Makao tempur terkenal di alun-alun kota, dan dia memenangkan sempurna dan membuatnya lebih dan lebih terkenal.

Lalu pada tahun 1815 ia kembali ke Bogor dan ia tinggal di tarik kolot Desa.ia mempunyai lima anak yaitu Endut, Ocod, Otang, Komar dan Oyot yang semuanya menyebar di tanah pasundan.Serta muridnya ACE merupakan orang yang bertanggung jawab untuk mengajar di Bogor dan keturunan ini ACE hingga sampai saat ini mengajar di Cimande Tarik Kolot Desa.

Abad ke-19 adalah puncak kejayaan Cimande dan Abah Khaer sering menggunakan celana pangsi dan kemeja kampret yang memang masih digunakan oleh praktisi pencak silat sekarang sampai pakaian pencak silat praktek hingga Abah Khaer meninggal dunia.

Sistem Splinter dari Ulin Cimande seperti Sera ‘dan maenpo Ciwaringin di muka nya (Under haji Abdul Rosid) mengubah jurus dari Cimande tapi masih belum keluar dari pakem (roh) dari Cimande. Sayangnya Abah kaher tidak meninggalkan pesan tertulis dan hanya meninggalkan tradisi lisan yang tidak sistematis.penyebaran Cimande dalam waktu yang lama sudah menciptakan banyak serpihan dengan atau tanpa pengakuan dari keturunan utama yang memang sudah menciptalan banyak cimande paguron baru yang tidak saling mengenal.

Baca Juga Selain Sejarah Celana Pangsi